Mencari Bebatuan Alfabet di Savana Begal

Belajar Bahasa Jerman
Belajar Bahasa Jerman Episode I, Mencari Bebatuan Alfabet di Savana Begal. Ini postingan cerpen pertama saya di alam maya. Ceritanya Siska dan tiga temannya sedang belajar bahasa Jerman bersama Pak Robert. Cerpen ini mirip seperti buku belajar bahasa Jerman. Namun, tidak seperti buku pembelajaran lain, saya mencoba menerangkan bahasa Jerman sedari awal menggunakan cerpen dengan cerita surealis. Bagaimana jadinya ya? langsung saja, silakan membaca.

Pagi yang super duper cerah, matahari merayap keluar dari tahanan malam. Sinarnya mampu membuat makhluk-makhluk dibawahnya bersuka cita, sebagian menyambut dengan berolahraga. Memang pagi terbaik adalah pagi pada hari minggu. Pagi yang mampu menekan risiko mahkluk di atas bumi untuk berseringai. Tidak seperti pagi di hari Senin yang menyebalkan itu.

Hari ini, keempat siswi SMA Sukamakan telah berjanji dengan pak Robert untuk mengadakan kegiatan belajar bahasa Jerman untuk kali pertama. Yap, bahasa Jerman tidak diajarkan di sekolah. Akan tetapi pak Robert dengan sedikit caper sebagai guru baru menawarkan kegiatan itu selepas jam mengajar bahasa Inggris. Sementara hanya empat siswi yang bersedia gabung, mereka adalah teman satu geng yakni Siska, Risa, Martini dan Fatimah.

Sesuai kesepakatan kegiatan tersebut akan dilakukan di areal perkebunan teh di kaki gunung Arjuna pada jam 7 pagi. Setiap siswi yang mau ikut diharapkan langsung menuju halte di depan perkebunan teh sebagai meeting point. Pagi itu Martini datang pertama, sedang Risa dan Siska datang berboncengan yang otomatis menempatkan urutan datang mereka menjadi nomor dua. Semuanya mengendari motor juga Fatimah yang datang terakhir namun bukan yang paling akhir. Semua siswi sudah kumpul di Halte namun pak Robert sendiri belum juga muncul. Martini mendapat kabar melalui aplikasi Line bahwa kedatangan pak Robert akan sedikit terlambat. Hal itu disebabkan karena yang bersangkutan sedang sakit pinggang katanya seusai olahraga pagi bersama istri. Namun, dia berjanji akan tiba di Halte pada pukul setengah delapan. Sementara, jarum jam masih menunjukkan pukul 06.45. Keempat siswi tersebut dengan santai menunggu sambil menyeduh teh. Teh yang baru mereka beli di areal perkebunan, katanya sih fresh from the tegal.

Sembari ngeteh, mereka ngobrol casciscus lebih banyak tentang pak Robert karena sebagai guru ia sedikit sekali wibawanya. Obrolan semakin seru dan melebar hingga pada permasalahan pribadi sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Tepat seperti janji sebelumnya, akhirnya pak Robert datang dan menyampaikan permohonan maaf di depan muridnya. Dan pak Robert dimaafkan.

“Baik, anak-anak kita akan belajar bahasa Jerman. Nah karena bahasa yang akan kita pelajari sedikit rumit. Maka kali ini kita tidak belajar di dunia nyata namun di dunia ghaib tepatnya dunia mimpi. Jangan bingung jika kalian orang yang beragama kalian pasti percaya hal-hal ghaib dan di dunia ghaib inilah kita akan belajar”.

“Aduh pak ini tahun berapa kok masih saja merawat yang ghaib-ghaib”, cetus Fatimah ketus.

“Fatimah, bukan begitu, di dalam dunia mimpi terdapat banyak sekali media yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Adapun media pembelajaran merupakan media yang berfungsi sebagai jembatan materi antara pengajar dan pembelajar. Media berfungsi untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar dalam mencapi tujuan”.

“Ehmm, yaudah deh pak tapi terus gimana ini pak. Kami masih bingung kan kita belajar bahasa manusia ya kan, tapi kok di dunia ghaib, gimana caranya itu pak?”.

Pak Robert menerangkan tata cara ia hendak mengajar melalui dunia ghaib tepatnya dunia mimpi. Yang pasti jika belajar melalui dunia mimpi mereka harus tidur terlebih dahulu dan tidak ada penolakan dari keempat siswinya.

Kesepakatan baru telah dibuat, mereka akan belajar bahasa Jerman di villa milik teman pak Robert, masih di areal perkebunan teh. Beriringan mereka melewati perkebunan teh. Pohon rindang di kiri dan kanan jalan, juga jalan aspal berkontur naik turun yang cukup mulus. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di teras sebuah villa.

Di sekitar villa milik teman pak Robert terpapar pemandangan menakjubkan. Pemandangan gunung Arjuno di utara dan gunung Semeru di selatan sebagai lakon keindahan. Seluruh motor telah terparkir, murid-murid segera berlarian untuk melihat pemandangan dengan sekali-kali mengucapkan kekaguman. Sembari muridnya mengagumi keindahan, pak Robert mengunjungi temannya sekaligus mengambil kunci dengan sesekali berbincang tentang masa lalu.

Setelah mengambil kunci, pak Robert segera membimbing pasukannya untuk masuk ke dalam villa dan menerangkan bahwa pembelajaran ini akan berlangsung di dunia mimpi jadi ya harus tidur dan tidur itu di kamar sehingga pak Robert mengajak muridnya untuk masuk ke dalam kamar. Dengan kepolosan khas siswi SMA, keempat siswi itupun mengikuti pak Robert masuk ke dalam kamar. Keempat siswinya dengan segera berbaring untuk tidur kecuali pak Robert yang masih berdiri di depan mereka bereempat yang sudah terlentang di atas Kasur.

“Jadi begini anak-anak, kita akan belajar dan beruntung saya memiliki kekuatan magis yang dapat merancang bagaimana kalian dapat bergabung dalam mimpi dan belajar bersama di sana namun harus kalian ingat ini bukan kekuatan saya pribadi namun hanyalah titipan dari tuhan Yang Maha Esa”.

“Udah pak tak usahlah bertele-tele, segera antar kami ke dunia mimpi itu pak” celetuk Fatimah gak sabaran.

“Baik, baik, jangan ribut-ribut saya akan bercerita tentang dongeng Don Quixote karya Miguel de Cervantes sebagai pengantar tidur kalian”.

“Nah, gitu dong paaaak” balas Siska sedang teman-temannya sudah bersiap untuk tidur.

Hanya butuh lima menit bagi Pak Robert untuk mendongeng. Keempat siswinya sudah terlelap dalam mimpi yang sama. Setelah benar-benar yakin para siswi telah tertidur, kini giliran pak Robert untuk duduk bersila dan mulai memejamkan mata hingga dalam waktu yang singkat ia telah menemui muridnya dalam dunia mimpi.

Dalam mimpi tersebut, keempat siswa yang tergabung dalam kelompok belajar bahasa Jerman di bawah bimbingan Pak Robert berkumpul di atas hamparan savanna yang sangat indah. Disamping savanna terdapat lembah yang juga sangat indah. Belakangan diketahui nama savanna itu adalah Savanna Begal.

“Anak-anak, kita sudah berada dalam dunia mimpi, tepatnya di atas savanna begal. Meski savanna ini bernama begal namun tidak ada seorangpun begal atau rampok disini, karena begal disini hanyalah sebuah nama, tanpa diperindah dan diperartikan. Baik, kembali pada kegiatan awal, kegiatan kita adalah untuk belajar bahasa Jerman, untuk pertama-tama kita akan mencari batu-batu alfabet yakni batu-batu yang termasuk sebagai simbol suara (fonem) dalam bahasa Jerman”.

“Kita akan berpencar dan batu-batu tersebut kesemuanya ada dalam savanna juga lembah disamping, ingat sekali lagi ini bukan kuasa saya tetapi kuasa tuhan Yang Maha Esa”.

“Anu pak, gimana sih bentuk batu-batu alfabet itu?” respon Risa malu-malu.

“Pertanyaan yang bagus Risa, jadi batu-batu alfabet adalah batu berbentuk alfabet latin, benar, alfabet latin seperti alfabet yang ada pada bahasa kita  juga bahasa Inggris, biar lebih mudah kesemua batu-batu alfabet yang harus kalian temukan mempunyai ciri-ciri sama yakni terbentuk dari batu intan, jadi kalau ada batu intan berbentuk alfabet disekitar kalian, ambil saja karena hanya bebatuan alfabet yang terbuat dari intan, jumlahnya 26”.

“Ululu, terbuat dari berlian ya pak, buat nikah bisa dong pak” kata Martini.

“Mau kalian nikah di dunia mimpi? Kalau mau ya silakan nikah sama buaya disana biar kalau sudah punya anak nanti anaknya jadi manusia setengah buaya haha”.

“Apaan sih pak garing banget” ucap Martini disambut gemuruh tawa teman-temannya dan salah tingkah oleh pak Robert.

“Ya sudah jika sudah jelas kalian bisa memikirkan untuk membuat strategi, jika sudah selesai kalian bisa kembali kesini”

Mendengar instruksi dari Pak Robert, keempat siswi langsung membuat strategi. Sesuai kesepakatan mereka bereempat akan berpencar. Berpencar ke segala penjuru mata angin yakni Siska ke utara, Martini ke selatan, Fatimah ke barat, dan Risa ke timur.

“Sudah pak, kami akan segera kembali kesini, tunggu kami disini pak” ucap Siska.

“Baik anak-anak, memang kalian ini murid yang sungguh hebat, disiplin, dan istiqomah dalam mencari ilmu, selamat berjuang”.

Mereka segera berpencar, berlarian menuju empat penjuru mata angin dengan gesit, kegesitan mereka di dunia mimpi melebihi kegesitan mereka di dunia nyata. Malah di dunia mimpi ini kecepatan mereka mirip ninja.

Sembari menunggu muridnya rampung mencari batu-batu alfabet, pak Robert dengan kesaktiannya segera menghadirkan kopi dan rokok serta handphone. Benda yang disebut terakhir adalah benda yang dapat menghubungkan pak Robert dari dunia mimpi ke dunia nyata, disitu dia membuka Instagram dan segera menuju akun yang berisi foto-foto gadis dengan pakaian serba minim sambil sesekali menyeduh kopi dan menghisap rokok Gudang Garam.

Keempat murid pak Robert tidak menemukan rintangan berarti kecuali Siska yang berlari ke arah utara demi menemukan batu-batu alfabet. Demi mengeksplorasi  savanna sebelah utara, Siska diharuskan menuruni lembah yang membuatnya terejerembab dalam lubang para buaya, tidak sepeti buaya di dunia nyata, buaya disini mempunyai gigi dan berperilaku seperti manusia, menggelikan dan itulah rintangan Siska. Dalam setiap usahanya demi mengumpulkan batu-batu alfabet dia harus berhadapan dengan buaya yang sedang menggosok gigi dengan pasta gigi Ciptadent Herbal, buaya mencuci celana dalam bermerk GT-Man, dan buaya yang mengeringkan pakaian yang rerata bermerk Calvin Klein, Adidas, dan Kehed. Hal tersebut sangat aneh bagi Siska yang mempunyai selera humor rendah.

Suatu keberuntungan juga kesialan terjadi ketika ia melihat batu alfabet dan untuk mengambilnya ia harus menyeberangi sungai, saat ia sudah melewati sungai dangkal itu ia berpapasan dengan buaya tua yang dengan santai mengendarai Honda Supra keluaran 1997. Dengan cueknya buaya itu berkendara sambil menggunakan kacamata rock n roll warna ungu, jaket casual bermodel bomber yang dibelakangnya terdapat tulisan aksara korea, juga sarung kotak-kotak kombinasi warna hijau tua dan muda.

“Sial, tempat macam apa ini sungguh pak Robert tidaklah lebih baik dari dukun babi ngepet berimajinasi buruk” ia mengumpat cekikikan setiap bertemu buaya-buaya menggelikan itu dan hal tersebut sangat menguras energi. Membuatnya lebih lelah dari Risa, Fatimah, juga Martini yang hanya mencari batu-batu alfabet di atas rumput.

Satu jam, waktu yang dibutuhkan bagi keempat murid Robert untuk menemukan keseluruhan batu alfabet. Kini mereka bertemu kembali di bawah pohon Kamboja yang tumbuh di tengah-tengah savanna begal, setelah menghitung jumlah batu alfabet mereka dibikin bingung karena batu yang mereka kumpulkan melebihi jumlah yang telah ditetapkan oleh pak Robert. Siska membawa 8 buah batu, Martini dengan 7 buah batu, Fatimah 9 buah batu, dan Risa hanya membawa 6 buah batu sehingga jumlah keseluruhan batu tersebut berjumlah 30 buah. Mereka telah mengecek bentuk batu yang telah mereka kumpulkan. Memang batu-batu tersebut berbentuk alfabet dan kesemuanya berbeda bentuk. Sebelumnya pak Robert pernah bilang bahwa jumlah alfabet dalam bahasa Jerman berjumlah 26 buah. Mereka bereempat berada dalam kebingunan yang agak di lebih-lebihkan dan berniat membawa permasalahan ini pada pak Robert.

Setelah kembali memasukkan batu-batu alfabet ke dalam tas mereka berjalan menuju ke tempat pak Robert semula memberi perintah. Dari kejauhan terlihat pak Robert sedang ngopi sembari merokok juga memegang handphone di bawah pohon beringin yang sangat teduh. Sungguh curang sekali. Tak lama kemudian pak Robert berdiri dari tempat santainya dengan melambaikan tangan sambil berteriak “halo apakah sudah selesai? ayo kita segera berkumpul”. Ajakan pak Robert dibalas oleh murid-muridnya dengan mengangkat tangan memberikan jempol sambil berjalan pelan karena kelelahan. Barang berjalan 50 langkah merekapun berkumpul dan pak Robert mulai membuka dialog.

“Nah, anak-anak, bagaimana, apakah sudah terkumpul batu-batu alfabetnya?”.

“Sudah pak, tapi kok ya yang kami temukan ini keseluruhannya berjumlah 30 pak bukan 26?” ujar Siska bingung .

“Masa?, ayo kita rangkai dan kita hitung sama-sama”.

Dengan bimbingan pak Robert, kesemua batu alfabet tersebut dirangkai menjadi satu kesatuan ortografi atau simbol bunyi yang indah. Walau sebagian besar sama saja dengan alfabet pada bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Namun ada sedikit perbedaan dan ketika semua alfabet telah terangkai, seperti inilah urutuannya, dibaca dari kiri ke kanan.
ABCDEF
GHIJKL
MNOPQR
STUVWX
YZÄÖÜβ

“Tuh kan pak, jumlah batu-batu alfabet yang kami temukan genap 30 bukan 26, apa kami yang salah pak, mengambil batu yang bukan termasuk alfabet dalam bahasa jerman?, tetapi kesemua batu ini terbuat dari berlian, seperti yang bapak terangkan tadi bahwa apapun yang terbuat dari berlian termasuk batu alfabet?” tanya Fatimah.

“Hehehe, anak-anak kalian ini memang murid yang hebat, kepo dalam segala hal, benar, semua huruf dalam bahasa Jerman sejatinya berjumlah 30, kalian tidak salah”.

“Lantas kenapa bapak tadi bilang 26, wah ngaco bapak ini” ujar Fatimah menginterupsi.

“Tunggu dulu, saya tadi sebenarnya ingin kalian menemukan 26 alfabet mulai dari A sampai Z ternyata karena mengikuti rasa keingintahuan kalian yang tinggi, kalian telah mendapatkan 30 alfabet mulai dari A sampai β, sungguh kalian ini benar-benar hebat melebihi ekspetasi saya”, ucap pak Robert dengan tidak memiliki barang 30% kewibawaanpun sebagai seorang guru.

“Haha, iya-iya pak jangan marah dong, masa ke murid-muridnya yang serba cantik ini bapak marah” kata Fatimah.

Siska merespon kata-kata Fatimah dengan berpaling dari pak Robert lalu melambaikan tangannya mirip pemain sepakbola yang memprotes wasit. Tak pelak gerakan tersebut disambut tawa oleh teman-temannya juga pak Robert lalu kembali menerangkan.

“Semua alphabet sudah terkumpul, sekarang tiba giliran saya untuk menerangkan alfabet dalam bahasa Jerman, alfabet yang berjumlah 30, lebih banyak dari alfabet dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris yang hanya berjumlah 26, juga akan saya terangkan bagaimana cara membunyikannya”.

Keempat muridnya beralih dari suasana bercanda menjadi sedikit serius dan mengharap pak Robert untuk menerangkan lebih lanjut.

“Jadi begini, dalam bahasa Jerman terdapat 30 alfabet, kenapa? Ya karena dari sananya memang begitu, sudah peraturan yang disepakati oleh ahli bahasa Jerman terdahulu, dan dalam menggunakan bahasa Jerman kalian sangat membutuhkan alfabet tersebut karena masing-masing mempunyai bunyi yang berbeda. Pembunyiannya hampir sama seperti bahasa Indonesia. Kita mulai dari huruf A, huruf A dalam bahasa Jerman dibunyikan A seperti dalam bahasa Indonesia, begitu juga B”.

Pak Robert menjelaskan tuntas kepada murid-muridnya hingga alfabet tersebut kini dapat ditulis lengkap dengan cara melafalkan atau membunyikannya, jika dijelaskan kembali kurang lebih seperti berikut.

“Semua huruf pengucapannya hampir sama dengan bahasa Indonesia, namun ada beberapa huruf yang berbeda pengucapannya. C dalam bahasa Jerman dibunyikan hampir sama  seperti dalam bahasa Indonesia tapi pengucapannya agak diperberat di awal jadi seperti ini –tse. J dalam bahasa Jerman dilafalkan yot, sedang Q dibaca Qu dan V dibaca dibaca Fau, juga W dibaca tidak seberat W dalam bahasa Indonesia namun mirip dengan melafalkan V dalam bahasa Indonesia namun agak ringan, Y dibaca  Upsilon dalam bahasa Jerman namun penggunaannya sama dengan huruf Y dalam bahasa Indonesia, sedangkan Z pengucapannya hampir mirip C yakni –tsett.

Adapun huruf umlaut yakni huruf yang memiliki titik dua di atas seperti Ä, Ü, Ö dibunyikan hampir sama seperti A, U, O biasa, namun untuk mengucapkannya harus dengan membulatkan bibir, jadi dibunyikan berurutan seperti ini Ae, Ue, dan Oe jangan lupa dengan membulatkan bibir ketika membunyikan masing-masing huruf. Contoh penggunaannya dalam bahasa Jerman adalah ketika kalian menemukan nama Özil, maka membacanya adalah Oezil dengan membulatkan bibir ketika membunyikan Oe atau Ö. Juga pada kata nämmlich dibaca naemmlich dengan membulatkan bibir ketika membaca ä atau ae, sedang kata über dibaca ueber tetap dengan membulatkan bibir untuk pengucapan huruf umlaut.

Huruf β dibunyikan -ess-tset bunyinya mirip dengan kita membaca -es cet, huruf dilafalkan atau dibunyikan ss, contoh penggunaannya adalah kata Eβen dibaca Essen, Auβer dibaca Ausser. Adapula dalam bahasa Jerman terdapat aturan tertentu ketika huruf vokal bertemu huruf vokal, khusus untuk eu, ei pembunyiannya berurutan oi, dan ai, contoh Eu pada kata Europa dibaca Oi sehingga bacanya Oiropa, juga pada nama Neuer dibaca Noier. Sedangkan ei seperti pada nama kota Leipzig dibaca ai sehingga bacanya Laipzig begitu juga seterusnya setiap kalian menemukan huruf ei maka dibaca ai juga eu dibaca oi.

Sedang untuk kata yang memiliki huruf ie yang bertemu satu sama lain di dalamnya, maka cara bacanya adalah dibaca i namun agak panjang. Contoh liebe maka dibaca liibe Eh, kalian ada yang pernah tau nggak sih tentang banyaknya konsonan yang bertemu dan bertumpuk pada satu kata dalam bahasa Jerman seperti pada nama Schweinsteiger?, cara bacanya begini, Sch dibaca sh jadi nama Schweinsteiger dibaca Shwainstaiger.

“Ada yang ditanyakan anak-anak?”. Seperti biasa jika murid mendengar pertanyaan ini dari gurunya reaksi murid adalah saling memandang satu sama lain yang bermuara pada kesunyian dalam kegiatan belajar mengajar.

“Ya sudah, jika tidak ada pertanyaan sebaiknya pelajaran ini kalian catat dan jika sudah maka kegiatan belajar ini bisa kita tutup, kita akan kembali bangun terus pulang, setuju?”.

“Setuju pak.” Ujar keempat siswi.

“Baik, silakan dicatat”.

Pada akhirnya mereka semua terbangun dari sebuah tamasya mistis yakni mencari alfabet di savanna begal. Mereka pulang dengan candaan yang tiada habisnya membahas mimpi berfaedah yang baru saja terjadi. Candaan tersebut berhasil membuat Pak Robert melebur dengan murid-muridnya yang membantu meningkatkan rasa percaya dirinya dalam mengajar. Setelah bangun, pak Robert melakukan refleksi pembelajaran, bahwa pada pertemuan ini murid-muridnya telah mengenal alfabet pada bahasa Jerman serta pembunyiannya. Setelah itu ia memimpin doa penutup belajar. Setelah selesai berdoa merekapun pulang beriringan mengendarai motor sembari membawa ilmu baru di kepala juga pada buku catatan.

Bersambung………

credit gambar: sewajeepbromo.co.id

Leave a Reply